Selasa, 29 Juni 2010

Trik Menghadapi Lawan Bicara Keras Kepala

pekerjaan apapun pasti punya tantangan yang wajib di taklukan. pekerja atau pegawai atau buruh atau kita sebut saja sang penantang akan dihadapkan pada bebagai persoalan yang jika sanggup dilewati dan membuat dirinya ter up-grade, maka dapat kita sebut sebagai sang penakhluk. sebaliknya yang tidak dapat melewati tantangan akan berakhir dengan PHK atau setidak-tidak nya menempati posisi yang sama untuk jangka waktu tak terbatas.

bekerja di bidang service punya tantangan tersendiri. kita dituntut memberikan service sebaik dan seramah mungkin kepada setiap customer tanpa membedakan customer yang baik (open mind-mau di bilangin) dan customer yang keras kepala (bahasa minangnya kareh angok). Pak Denies bilang " berikan pelayanan hingga customer menderita kepuasan). Nah, menghadapi customer keras kepala ini adalah harga mutlak yang harus di kita bayar untuk memperoleh ilmu sejati dari bidang service.

bagaimana cara menghadapi customer keras kepala?
  1. Sapa terlebih dahulu customer dengan greeting yang baik, ramah dan akrab. menanyakan kabar adalah suatu hal yang biasa, tetapi berdampak cukup luar biasa. ibarat pancingan, greeting adalah umpan yang syukur-syukur bisa melunakkan hati lawan bicara. kita dapat membaca karakter lawan bicara setelah nya
  2. Sampaikan poin-poin yang ingin kita sampaikan
  3. Jangan terpancing dengan emosi lawan bicara. biarkan lawan bicara menyampaikan pendapatnya, jangan di bantah ataupun di sela.
  4. Setelah lawan bicara puas menyampaikan argumen, baru kita mulai berbicara, tapi yang kita bicarakan adalah poin-poin yang memang ingin kita sampaikan, usahakan tidak menyinggung apa pun yang baru saja di sampaikan lawan bicara, dengan demikian kita menggiring lawan bicara ke opini kita dan meninggalkan opini mereka.
  5. sampaikan sesuatu dengan logika dan bahasa yang sekiranya dimengerti oleh lawan bicara
  6. Berbicaralah dengan sikap tenang, menjaga senyum. hal ini sebenarnya berguna bagi kita sendiri, semacam terapi bagi diri sendiri bahwa posisi kita masih lead.
  7. jika lawan bicara sudah mulai agak terpengaruh dengan apa yang kita sampaikan, jika bisa lempar sedikit joke ringan untuk mencairkan suasana.
bebicara yang baik sebenarnya adalah sebuah tuntutan. tapi berbicara yang baik, dengan ketulusan dari hati, sesungguhnya lebih mulia dan tentu saja lebih menyentuh hati.

Tidak ada komentar: